Wisata  

Museum Diponegoro Magelang

Avatar
Museum Diponegoro Magelang

www.daytekno.com

Lokasi: Jalan Diponegoro No. 1, Kota Magelang, Jawa Tengah, 56117Map: Klik DisiniHTM: GratisBuka Tutup: 08.00-14.00Telepon: –

Mengenang jejak para pahlawan Indonesia yang telah berjuang sekuatnya untuk merebut kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah adalah suatu hal yang patut dibanggakan.

Bagaimana caranya mengetahui berbagai kisah perjuangan para pejuang tersebut. Caranya dengan menapak tilas jejak-jejak perjuangan pada bertahun-tahun silam.

Banyak sekali pahlawan perjuangan Indonesia begitu terkenal kuat dalam strategi dan melawan penjajah, di antaranya adalah Jenderal Sudirman, Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, dan lainnya.

Untuk kali ini akan menapak tilasi jejak perjuangan dari Pangeran Diponegoro. Beliau adalah salah satu pahlawan perjuangan bangsa dari kalangan kerajaan, dengan gigihnya berjuang melawan penjajah. Jawa Tengah adalah tempat asalnya.

Untuk bisa mengetahui kisah perjuangannya, Anda dapat mendatangin museum Diponegoro yang terletak di kota Magelang, Jawa Tengah. Alamat tepatnya adalah di jl. Diponegoro Nomer 1, Magelang, daerah Sidorejo, Bandongan, kota Magelang.

Letak museum ini dalam satu komplek dengan museum BPK di gedung karesidenan Kedu ini diresmikan tanggal 11 Agustus 1977. Lokasinya dengan pusat kota, kurang lebih hanya berjarak 500 meter dari pusat kota Magelang, memudahkan untuk mencapainya.

Sejarah Singkat

Museum Diponegoro Magelang ini adalah bekas kamar Pangeran Diponegoro, terletak di sayap kiri pendopo Karesidenan Kedu. Berdasarkan sejarah, di kamar ini juga, beliau ditangkap dengan licik oleh Belanda.

Bagaimana awal ceritanya hingga Diponegoro bisa ditangkap, adalah Kolonel Cleerens menemui beliau di daerah Remo, Bagelen, Purworejo, tanggal 16 Februari 1830. Tujuannya adalah untuk melakukan perundingan.

Alasan dilakukannya perundingan tersebut, tentunya untuk memberikan keuntungan pada pihak Belanda, karena selama lima tahun belum mampu menjatuhkan Diponegoro. Pada 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro beserta laskarnya setuju untuk bertemu dengan Letnan Gubernur Jend. Markus de Kock.

Pihak Belanda mengajukan permintaan untuk menghentikan perang, namun ditolak langsung oleh Pangeran Diponegoro, dan ternyata pihak Belanda telah mempersiapkan untuk melakukan penyergapan secara langsung.

Baca Juga;  10 Daftar Nama Pantai di Wilayah Ambon Dengan Pemandangan Terindah Serta Cukup Terkenal

Misi penyergapan tersebut dipimpin oleh Kolonel Du Perron. Pangeran Diponegoro dan pengikut laskarnya akhirnya dilumpuhkan. Selanjutnya beliau diasingkan di daerah Ungaran dan dibawa ke Karesidenan Semarang.

Pada 5 April 1830, beliau di bawa ke Batavia hingga tanggal 11 April 1830, kemudian ditahan di Stadhuis, saat ini dikenal dengan museum Fatahillah. Tanggal 30 April 1830, beliau dijatuhkan hukuman pengasingan oleh Jend. Van Den Bosch. Beliau diasingkan ke Sulawesi hingga akhir hayatnya.

Itulah sekilas sejarah mengenai Pangeran Diponegoro yang berusaha dengan kuatnya untuk mempertahankan wilayahnya dari penjajahan. Saat ini bekas kamar beliau dijadikan museum, dengan nilai sejarah tinggi. Dibangun dengan menggunakan arsitektur khas Eropa, isi koleksi di museum tentunya adalah milik beliau.

Di antara koleksinya yang sangat berharga adalah jubah yang dikenakan beliau. Jubah tersebut berukuran panjang kurang lebih satu setengah meter dan lebar 1.3 meter. Kain jubah ini terbuat dari kain shantung.

Koleksi lainnya adalah kitab tharib, tujuh cangkir untuk tujuh macam minuman yang disenangi oleh Pangeran Diponegoro, dan masih banyak lagi lainnya koleksi milik beliau di museum.

Untuk mencapai museum Diponegoro di Magelang dapat ditempuh oleh siapa saja menggunakan kendaraan pribadi atau umum. Bila Anda menggunakan kendaraan umum yang berangkat dari Yogyakarta ke arah Magelang, nanti turun di sub terminal tidar atau sub terminal kebon polo.

Selanjutnya menyambung dengan menggunakan angkot jalur 1, 5, atau 8 dan turun di jalan P. Diponegoro. Untuk pengendara kendaraan pribadi cukup ikuti jalan ke arah Magelang, sesuai petunjuk peta jalan.

Museum Diponegoro Magelang, buka setiap hari Senin sampai Sabtu, jam delapan pagi hingga jam dua siang. HTM tidak dikenakan alias gratis. Jadi bagi pengunjung dengan rasa ingin tahu tinggi, dapat langsung datang untuk mempelajari sejarah perjuangan beliau di tempat ini.

Baca Juga;  Taman Kalijodo Jakarta Sekarang Buka Sampai Jam Berapa?

Monumen Diponegoro Jogja

Selain berada di kota Magelang, di kota jogja sendiri juga terdapat museum dan juga monumen Pangeran Diponegoro. Ternyata, tempat yang kini museum dan terletak di Jogja tersebut merupakan bekas kediaman beliau.

Museum tersebut dinamakan Sasana Wiratama. Di tempat ini seorang pahlawan lahir dan dibesarkan. Lahir dengan nama Raden Mas Ontowiryo tanggal 11 November 1785, putra sulung dari Raden Ayu Mangkorowati, selir Sri Sultan Hamengku Buwono III.

Sesuai dengan cerita yang telah dijelaskan sebelumnya, saat Belanda menawarkan perundigan pada beliau, yang akhirnya berujung pada penyergapan. Selanjutnya beliau dan para pengikutnya serta keluarganya melarikan diri ke arah Barat, yaitu ke kulon progo, lalu ke selatan dan akhirnya tiba di Goa Selarong.

Sebagai penghormatan terhadap perjuangan beliau melawan penjajah. Maka dibangunlah sebuah monumen di tenpat tinggal beliau yang berada di Kampung Tegalrejo.

Monumen Diponegoro yang memiliki tinggi empat meter dan panjang sekitar 20 meter ini diusulkan oleh Mayjen Surono, yang kala itu menjabat sebagai PANGDAM, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Bentuk monumen cukup unik dan bernilai sejarah dan seni yang tinggi, yaitu pahatan relief dan dipahat langsung oleh seniman patung Drs. Saptoto, dibantu oleh Sutopo, Sukodiharjo dan Askabul.

Untuk pintu masuk monumen berada di selatan dan di depan gerbang utama akan dijumpai patung Letjen. Urip Soemohardjo yang diletakkan di timur.

Saat Anda berjalan ke sisi barat akan menjumpai patung Panglima Besar Jenderal Sudirman. Kemudian saat berjalan masuk lewati gerbang akan terdapat dinding yang mirip dengan kubah masjid, pada bagian atasnya terdapat patung raksasa sedang melawan naga. Ternyata ini merupakan gambaran yang melambangkan dari beberapa angka.

Maksudnya adalah butho mekso basuki ing bawono atau angka 1825, dimana pada tahun tersebut mulai terjadi perang diponegoro. Pada bagian tengah terlihat pendopo yang di sekelilingnya museum serta prasasti.

Baca Juga;  Slanik Waterpark di Lampung Selatan

Tidak ketinggalan pula salah satu saksi bisu tentang sejarah perlawanan diponegoro dan laskarnya melawan penjajah, yaitu tembok yang berhasil di jebol oleh beliau.

Bagian dalam museum terdapat macam-macam koleksi peninggalan pangeran Diponegoro. Di antaranya adalah berbagai macam alat rumah tangga yang terbuat dari tahun 1700-an dengan bahan kuningan.

Berbagai senjata yang digunakan oleh para laskar beliau saat itu, hingga senjata keramat keris yang memiliki 21 buah lekukan dari masa kerajaan Majapahit dan pedang yang berasal dari Demak. Di pendopo sendiri terdapat gamelan buatan tahun 1752, milik Hamengku Buwono II.

Total koleksi yang dimiliki museum Sasana Wiratama adalah berjumlah sekitar seratus buah. Bagi pengunjung yang ingin datang ke museum, dibuka setiap hari Senin sampai dengan Sabtu, mulai jam delapan pagi hingga jam satu siang.

Untuk harga tiket masuk atau htm, diberikan secara sukarela saja dari setiap pengunjung. Alamat dari museum Sasana Wiratama adalah di jl. HOS. Cokroaminoto, Tegalrejo TR III/430 Yogyakarta. Pengunjung yang ingin mengambil foto, sebaiknya dilakukan dengan tenang.

Bila pergi ke Sasana Wiratama menggunakan kendaraan umum, dapat turun di pertigaan Jl. HOS. Cokroaminoto menggunakan angkot jalur 12. Selanjutnya naik becak, atau dapat gunakan bis kota jalur 15 dan turun di pertigaan Jati Kencana, dan lanjut naik becak menempuh perjalanan sejauh lima ratus meter.

Tak hanya di pulau Jawa saja, museum diponegoro ternyata juga ada di pulau Sumatera yaitu kota Palembang. Bahkan di museum Diponegoro Palembang ini menyimpan tongkat sakti warisan dari pahlawan perjuangan tersebut.

Itulah beberapa museum Diponegoro di beberapa kota di Indonesia. Anda juga dapat melihat patung Diponegoro sedang menunggangi kuda kebanggannya yaitu turangga seta, di depan kampus UNDIP yang mana terdapat jurusan teknik geologi.