www.daytekno.com – MANADO – Daihatsu Sirion baru saja mendapat penyegaran di tahun ini setelah beredar selama empat tahun. Menyusul pembaruan yang diberikan, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) mengajak media untuk merasakan performa dan fitur baru New Sirion menjelajah alam Sulawesi Utara. Kami diajak berkendara dari Manado menuju Tomohon, menjelajah jalan perkotaan dan medan berbukit.

Sebelum beranjak membahas bagaimana performa, handling dan kelengkapan Sirion. Baiknya dimulai dari bagian kasat mata, rancangan tubuh luar. Betul, Daihatsu hanya sedikit mendandani eksterior dengan sentuhan ringan. Sekilas, Anda sukar menemukan perbedaan dari model lawas. Sebagai edisi facelift 2022, sorot lampu utama sudah LED. Bahkan sudah diberi levelling adjuster plus fitur follow me home.

Bumper depan maupun belakang sengaja ditata ulang, walau tidak begitu kentara. Pola velg juga masih sama. Ukuran 15 inci dan bentuk side guard tak berubah. Dimensi New Sirion tetap kompak, ia memiliki panjang 3.896 mm, lebar 1.734 mm, tinggi 1.525 mm, jarak sumbu roda 2.500 mm. Kemudian jarak terendah body ke tanah 150 mm. Profil ini cocok dipakai berkendara di perkotaan. Enak pula diajak blusukan di jalan sempit, di beberapa lokasi wisata Tomohon.

Lalu saat masuki kabin. Pembaruan terjadi di bentuk lingkar kemudi, sama dari milik Rocky & Xenia. Tapi hanya bisa diatur dua arah saja (tilt steering), belum teleskopik. Sirion 2022 memiliki desain MID baru berlayar TFT 4,2 inci. Tak ketinggalan, tersisip air purifier, lumayan dapat membersihkan udara kabin dan membunuh bakteri atau virus. Head unit juga berubah, dengan format 2DIN plus sambungan ke smartphone via Android Auto serta Apple CarPlay. Sayang, belum terpasang tweeter di pilar A. Sebaran audio dirasa cukup. Malah disarankan untuk upgrade ke sistem 2-way.

Praktis sekali masuk ke kabin Sirion. Sebab sudah menggunakan keyless (tanpa anak kunci). Setiba di Bandara Sam Ratulangi, kami dan tiga rekan semobil langsung duduk sebagai pengemudi di tipe R. Atur posisi jok sebaik mungkin dan mulai mengecek sejumlah panel maupun tombol. Untuk harga Rp 200 jutaan, kualitas material dashboard cukup. Memang, jangan berharap banyak. Kursi masih berbahan kain (fabric), lalu material panel penuh plastik. Nah, penguji memiliki tinggi 173 cm, panjang tempat duduk depan kurang menopang ujung paha. Jelas, ini memengaruhi kenyamanan saat berkelana jauh.

Tapi, karena bentuk mobil tergolong kompak. Berbagai sudut pandang ke luar mudah sekali didapat. Ia mengantongi rancang bangun minim titik buta (blind spot). Oke, setelah pengecekan, kemudian tekan tombol start/stop untuk menyalakan mesin. Tarik tuas transmisi ke posisi D (Drive) menuju Tomohon. Pergerakan setir terasa ringan lantaran pakai Electric Power Steering.

Rasa berkendara bersama si mungil Sirion terbilang relatif nyaman, walau menampung empat penghuni kabin. Juga barang bawaan. Handling pun demikian, meski mobil harus menempuh jalan berkelok. Komunikasi antara pergerakan setir, sudut belok, serta gesekan ban dengan jalan terjalin harmoni. Artinya, pengendalian Sirion boleh disebut presisi. Entah di jalan kering maupun basah.

Apakah keras? Sirion menganut tipe suspensi depan McPherson Strut dan belakang Torsion Beam. Kalau menurut penguji, sebagai pengendara, ia terasa pas. Tidak limbung bahkan minim body roll untuk membelah jalan pegunungan sekalipun. Tapi, format ini harus sedikit mengorbankan kenyamanan di belakang. Sebagai penumpang baris kedua, rebound atau pengembalian pegas terasa cepat saat ban melindas gundukan. Bunyi “jeduk” pun tak terhindarkan. Ya, ini jadi catatan buat Daihatsu.

Jantung pacu tertanam di Daihatsu Sirion senantiasa sama. Berkode 1NR-VE Dual VVT-i 1.3 liter DOHC empat silinder. Namun tenaga ditingkatkan sedikit. Melalui sistem pengabutan bahan bakar injeksi. Denyut daya hasil olah empat piston terbuncah 93 hp di 6.000 rpm. Lantas torsi puncak dicapai 120 Nm pada 4.200 rpm. Model lawas cuma 89 hp dan 117 Nm. Sekarang ia menggunakan transmisi baru D-CVT (dual mode).

Cara kerja transmisi baru ini sebetulnya canggih, dibanding kompetitor macam Honda Brio RS CVT. Di Sirion, penyalur daya menggunakan D-CVT. Tidak sepenuhnya bergantung pada belt. Ada imbuhan planetary gear di bagian input dan output shaft pulley. Ia mampu terlepas atau tersambung. Dalam kondisi normal kecepatan rendah sampai menengah. Bahkan tetap sanggup bekerja layaknya CVT konvensional. Transisi terjadi di kecepatan tinggi di atas 60 km/jam. Kemudian penyaluran tenaga beralih ke sistem gear.

Tak lain, tujuannya guna menghindari dampak power-loss dan mengejar efisiensi. Rotasi belt di pulley pun berkurang signifikan. Kalau dibandingkan dengan A/T (transmisi konvensional) di Sirion lama. Maka efisiensi BBM bisa naik sekitar 5 persen berkat D-CVT. Asal tahu, dari Manado menuju Tomohon, lanskap jalanan terus menanjak. Sehingga peran planetary gear kurang terasa. Malah yang sering terpakai CVT biasa.

Kuatkah diajak menanjak? Karakter D-CVT tak bisa diajak melesat instan. Yang penting, pengendara harus bisa mengatur bukaan throttle agar selalu berada di rentang torsi tepat. Mesin 1.3 liter plus D-CVT Sirion sanggup diajak mendaki area pegunungan Lokon, Sulut. Caranya, atur irama putaran mesin di atas 3.000 rpm. Dipastikan, Anda tidak bakal kehilangan torsi. Alihkan tuas transmisi ke posisi S (Sport). Respons lumayan tangkas. Namun jika terus digeber di putaran tinggi, tentu konsumsi bahan bakar tidak akan irit. Di layar MID, tertera angka konsumsi 8,3 km/liter saat diajak melesat sejauh 60 kilometeran.

Lalu ketika menuruni jalan perbukitan. Anda bisa geser tuas transmisi ke posisi B (brake). Saat berada di mode ini, lompatan rasio tidak berurutan (perlambatan) bakal terasa. Sehingga turut membantu menghambat laju mobil. Putaran mesin bahkan bisa lebih dari 3.000 rpm. Kemudian catatan konsumsi dari Tomohon ke Manado (menurun) berdasar MID bisa 8,4 km/liter hingga 8,6 km/liter. Untuk angka ini, memang harus dilakukan dengan metode lain: full to full. Sehingga kita bisa mengetahui pasti berapa asupan bensin ke mesin.

Mengenai fitur New Sirion, cukup, walau tanpa perangkat ASA seperti di Perodua Myvi. Konsumen hanya mendapat Anti Lock Brake System (ABS), Electronic Brakeforce Distribution (EBD), Hill Start Assist. Peranti HSA juga sangat membantu saat mobil berhenti di jalanan Gunung Lokon. Terus Vehicle Stability Control (VSC) juga amat berguna mencegah mobil melintir oversteer atau understeer. Menambah kepercayaan diri tatkala melibas kondisi jalan basah maupun hujan. Sisanya front and side airbag tersedia di empat titik. Terpasang isofix dan seat belt reminder buat pengemudi serta semua penumpang. Traction Control juga tak luput dipasangkan.

Apakah layak dimiliki? Harga Sirion R D-CVT Rp 236,8 juta masih terbilang punya value for money. Tentu dalam sudut pandang di segmen small hatchback. Kalau dikomparasi bareng Brio RS CVT (Rp 235,8 juta). Ia lebih unggul di segala sektor. Baik itu dalam segi performa, kelengkapan fitur maupun aspek keselamatan. Rasanya tidak sayang, kalau Anda membayar Rp 900 ribu lebih mahal. Tapi kendaraan yang didapat niscaya punya daya saing tinggi. Namun kalau landasan memilih berdasar citra merek. Itu kembali lagi pada kebutuhan masing-masing personal.(ANJAR LEKSANA / WH)

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website carvaganza.com. Situs https://www.daytekno.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://www.daytekno.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

Bagikan:
x